‘Pak Wabup, iyo pandai manyuruak kuku yo,..’

Sebuah chat WA dari seorang sahabat masuk ke Hp saya disertai dengan sebuah link berita dari harianhaluan.com, yang berjudul ‘Kok bisa! Selama jadi Wakil Bupati Harta Kekayaan Ferizal Ridwan Minus’.

(https://www.harianhaluan.com/mobile/detailberita/106187/kok-bisa-selama-jadi-wakil-bupati-harta-kekayaan-ferizal-ridwan-minus)

Saya hanya terdiam dan hanya membalas dengan emoticon tersenyum, karena memang bukan sahabat saya itu saja yang seakan tidak percaya pada isi berita tersebut, banyak lagi para sahabat yang mempertanyakan.

Dalam pemberitaan tersebut disebutkan harta kekayaan saya berkurang drastis selama hampir 5 tahun jadi Wakil Bupati, bahkan disebutkan juga saya memiliki hutang saat ini sekitar Rp 121 juta. Hal itu mungkin aneh bagi sebagian orang, tapi bagi para sahabat yang sudah mengenal saya lebih dalam, ini merupakan sesuatu hal biasa yang sering terjadi pada saya.

Dan saya tegaskan, semua yang diberitakan tersebut adalah benar. Sebagai contoh, sampai saat ini saya tidak memiliki mobil pribadi, yang bisa dikatakan ini sesuatu yang sangat musykil pada saat ini bagi seseorang yang disebut sebagai ‘pejabat’ apalagi saya juga sudah terdaftar sebagai Calon Bupati, yang katanya harus memiliki ‘modal’ yang banyak. Setelah tidak menjabat dan semua fasilitas mobil dinas dikembalikan, saya akan kembali menggunakan sepeda motor untuk beraktifitas, itu sama kondisinya dengan saya sebelum menjadi Wakil Bupati. Hanya saja bedanya, saat ini saya memiliki kewajiban hutang, yang timbul karena beberapa kegiatan yang dilakukan sebelumnya, seperti memindahkan makam Dt. Tan Malaka, untuk lebih banyak ditanggung biaya pribadi dan bantuan donatur, tanpa dana APBD.

Jadi setelah saya tidak jadi Wakil Bupati, yang berubah dari saya adalah bertambahnya hutang, bertambahnya gelar/sebutan yaitu ‘Mantan Wabup’ dan mendapatkan Rahmat dari Allah Ta’ala berupa titipan anak laki-laki yang insya Allah bisa meneruskan cita-cita Buya Fery nantinya, jika belum tercapai saat ini.

Eh iya, ada satu lagi rahmat Allah Ta’ala yaitu diundangnya saya sebagai tamu Allah Ta’ala ke Baitullah dan menunaikan haji. Dan insya Allah tidak menjadi Wabup atau tidak terpilih nantinya jadi Bupati, saya akan tetap berada di tengah-tengah masyarakat Kabupaten Limapuluh Kota yang tercinta ini. Buya Feri tidak akan kemana-kemana, tapi akan selalu ada dimana-mana bersama masyarakat Limapuluh Kota

Terus kalau tidak punya uang, bagaimana mau jadi Bupati???
Apakah akan bisa menang???

Banyak juga pertanyaan seperti itu yang sampai ke saya, tapi bagi saya untuk jadi Bupati adalah panggilan perjuangan, pengabdian dan cara bersyukur atas berkah dari Allah Ta’ala. Jadi uang bukanlah yang utama, karena yang utama adalah niat dan panggilan hati. Sudah banyak juga buktinya, bahwa uang bukan segalanya dalam mencapai posisi perjuangan itu.

Saya teringat situasi pada 5 tahun lalu, dimana saya bersama Kakanda Irfendi Arbi memutuskan maju berpasangan sebagai Bupati dan Wakil Bupati periode 2015-2020, ketika itu kondisinya hampir sama, saya dan ‘Da Pen’ juga sama-sama tidak memiliki uang untuk ikut berkompetisi, dan bisa dipastikan dibanding para calon lain waktu itu, kami kalah jauh dari urusan ‘modal’ ini.

Namun berkat pertolongan Allah Ta’ala, keyakinan dan kekuatan silaturahmi yang dibangun selama bertahun-tahun, kami berhasil mendapatkan suara terbanyak dengan modal tersedikit.

Selain dari pertolongan Allah Subhanallahu wa Ta’ala dan kekuatan silaturrahmi, harapan dari masyarakat Kabupaten Limapuluh Kota terhadap perubahan yang signifikan juga turut menjadi alasan dipilihnya kami waktu itu. Memang dalam visi misi dan janji kampanye, beberapa program kami cukup menjadi daya tarik waktu itu, seperti menjadikan “Harau Menuju Dunia” sebagai destinasi wisata internasional, membangun Universitas Tan Malaka dan beberapa program lainnya.

Namun saya akui masih sangat banyak dari program tersebut yang belum berjalan. Namun pondasi-pondasi dari semua itu sudah mulai dibangun, seperti pendirian Universitas Tan Malaka, saya bersama-sama para sahabat, donatur dan semua yang peduli dengan pemikiran Bapak Bangsa Ibrahim Dt. Tan Malaka sudah berhasil untuk memindahkan makam beliau ke Kabupaten Limapuluh Kota. Hal ini merupakan pondasi besar, dimana nantinya akan dilanjutkan dengan tindakan yang lebih nyata, yang insya Allah jika saya terpilih jadi Bupati, saya akan jadikan prioritas.

Booming Tan Malaka ini akan kita sinergi kan dengan PDRI, dan kita upayakan adanya kompensasi dari pusat untuk jasa Tan Malaka dan PDRI sebagai pembuat landasan dan penyangga Bangsa Indonesia. Kompensasi itu berupa Pendirian Universitas Tan Malaka serta seluruh infrastrukturnya, termasuk jalan, dll. Ini sangat bisa dilakukan dan pondasinya telah kita tanam.

Begitu juga dengan ‘Harau Menuju Dunia’, ini akan kembali kita upayakan terwujud, walau sempat terhenti, namun pada saat-saat awal saya dilantik dulu, pondasi ini juga telah mulai dibangun. Dengan mulai mengarahkan semua kegiatan ke Lembah Harau dan menjadikannya ikon utama dari Kabupaten Limapuluh Kota. Ini juga jika tercapai, maka akan menyusul pembangunan infrastruktur yang lain, seperti Pembangunan Bandara, Hotel dan infrastruktur pendukung lainnya.

Mengenai beberapa program lain yang terkendala, saya secara pribadi meminta maaf kepada seluruh masyarakat Kabupaten Limapuluh Kota. Karena adanya beda pemikiran, beda jalan dan beda tata cara menjalankan Pemerintahan Kabupaten Limapuluh Kota antara Kakanda Irfendi Arbi dengan saya, maka sempat terjadi riuh-riuh kecil diantara kami. Namun semua itu sebenarnya merupakan ijtihad kami yang secara tulus ingin memajukan Kabupaten yang tercinta ini.

Gaya kepemimpinan saya yang agak cepat dan penuh akselerasi, berbeda dengan gaya kepemimpinan ‘Da Pen’ yang kalem dan penuh perhitungan.
Tidak ada yang salah dan juga tidak ada yang merasa benar, namun ini semua hanya perbedaan gaya kepemimpinan diantara kami.

Akhirnya sebagai yang muda dan jabatan sebagai pembantu bagi Bupati, saya memutuskan untuk memberikan jalan dan ruang kepada Da Pen untuk memimpin dengan pola dan gaya beliau, sedangkan saya lebih banyak menjalankan fungsi pengawasan dan lebih concern berkutat dengan aksi-aksi kemanusiaan.

Saya menepi..!
Benar,. saya sengaja menepi sejak baru beberapa bulan kami sama-sama dilantik. Semua itu saya lakukan agar tidak semakin terjadi keriuhan yang mengganggu jalannya roda pemerintahan. Da Pen sebagai ‘sopir satu’lah yang membawa kendaraan Limapuluh Kota sampai akhir masa jabatan. Dan saya sebagai ‘sopir dua’ lebih sering berada di luar kendaraan, berkorban agar penumpang aman sampai ke tujuan dengan cara dan metode yang digunakan ‘sopir satu’.

Mungkin sopir dua ‘pangebut’, makanya tidak diberi kesempatan membawa mobil..
Hehee..

Selama 42 hari saya plt Bupati 2017 sewaktu Pak Bupati menunaikan haji, saya lakukan 16 kebijakan luar biasa dan sangat bermanfaat, walau hanya 1 kebijakan yang menjadi perdebatan dan kajian sampai ke tingkat nasional yang sampai hari ini juga tak ada salah dan benarnya, cuman dilalui dan dinikmati saja.

Namun sekali lagi saya sampaikan, saya bersama Kakanda Irfendi Arbi tidak bermusuhan, saya sangat menghormati beliau sebagai senior, kakak dan pimpinan. Dan saya juga belajar banyak dari beliau tentang kehati-hatian dalam mengelola daerah, khususnya keuangan daerah. Jujur saya katakan, apa yang saya buat dan saya jalani selama ini, beliau tidak dalam kontek marah. Melarang tapi lebih pada memahami, sebab hal-hal besar itu telah saya tukangi semenjak saya terjun di kancah sosial, politik dan masyarakat, sebutlah tentang PDRI, TAN MALAKA, OLAH RAGA, kegiatan Sosial dan lainnya itu sudah menjadi pangilan jiwa saya tentunya.

Buya Feri Pemimpi Besar

Banyak orang yang menyematkan kata-kata itu kepada saya, bahkan tidak sedikit dengan nada yang sinis dan dibumbui dengan kata-kata ambisius, rakus jabatan, atau bahkan sampai ada yang menyebut saya ‘gila’. Kalau ini sebutan ‘gila’ ini, saya ambil positifnya aja, dan kalau gila itu disebut sesering diakan menjadi enerji semangat, gilagilagila menjadi Lagi, Itu mungkin karena saya banyak mengurus saudara-saudara kita yang menderita sakit jiwa, orang terlantar, orang jumpo, keluarga miskin dan lainnya. Kita meti memanusiakan manusia, dan bagi saya mengurus orang sakit tersebut adalah salah satu “bersyukur berterima kasih dalam berkah”.

Tapi bagi saya semua julukan, baik yang positif maupun negatif saya terima saja, karena saya lebih memilih membuktikan dengan kerja nyata.


Tapi bukankah lebih baik ‘Mimpi besar, daripada sering Mimpi basah..’
Hehee..

Bicara soal mimpi besar, memang semua mimpi tentang daerah ini sudah merasuk ke dalam kepala saya, bagaimana Harau Menuju Dunia, menjadi destinasi wisata Nasional maupun Internasional, Universitas Tan Malaka, bagaimana Ibu Kota Kabupaten menjadi lebih tertata, bagus dan modern. Seperti terwujudnya jalan 2 jalur dari batas Kota Payakumbuh menyambung sampai ke Kelok 9, semua itu benar-benar menyesak ke dalam kepala dan dada saya. Apalagi kalau dibanding dengan Kabupaten/ Kota lainnya di Sumatera Barat, sangat jauh Ibu Kota Kabupaten kita tertinggal, padahal kita merupakan gerbang dari wilayah Riau dan Sumatera Utara.

Belum lagi persoalan komoditi daerah yang tidak bisa maksimal dalam pemasaran, bahkan semena-mena dipermainkan para tengkulak, agen, dan pialang. Pengadaan Bank Tanah untuk petani, dan juga jaminan tanah untuk Investasi, Fasilitas Umum dan Sosial termasuk solusi pada penyelesaian sengketa tanah. Masih begitu banyak persoalan yang perlu dituntaskan di daerah kita. Serta program yang terbengkalai, itu mesti dilanjutkan, tidak soal dimasa siapa program itu,

Semua ini membutuhkan kerja keras, keseriusan dan yang paling utama adalah sinergi dan kerjasama tim. Keikhlasan serta harapan yang sama.

Hal inilah yang mendasari saya memilih adinda Nurkhalis sebagai calon Wakil Bupati berpasangan dengan saya. Terlepas dari Nurkhalis yang sudah teruji dan berhasil meraup suara lebih dari 68 ribu suara, jauh diatas kemenangan kami pada 2015 yang memperoleh 51 ribu suara, selaku calon DPD yang juga tidak mengandalkan uang tapi kekuatan silaturahim pada Pemilu Dewan Perwakilan Daerah (DPD) pada Pemilu 2019 lalu di Kabupaten Limapuluh Kota, itu hanya sebagai salah satu alasan saja, tapi bukan alasan yang utama.

Saya lebih melihat etos kerja yang dimiliki Dinda Nurkhalis, dia telah terbukti berjuang, bertungkus lumus mengangkat derajat para petani, tanpa mengharapkan bantuan pemerintah. Yang penting bagi dia berbuat terlebih dahulu. Dan nasib petani ini sangat layak untuk diperjuangkan sebagai landasan ekonomi masyarakat.

Itu juga merupakan bagian ‘MEWUJUDKAN KAB 50 KOTA YANG MADANI, MELALUI KEBANGKITAN EKONOMI DAN SUMBER DAYA MANUSIA’.

Selain itu, kesamaan visi, cara berpikir, cara bertindak serta matang berorganisasi adalah alasan saya yang lain juga. Saya tidak ingin lagi adanya ketidakharmonisan, ketidak sesuai cara berpikir atau ‘sa sampan, indak sadayuang’ setikar berlain sisi.

Walau sampai saat ini pembagian kewenangan antara bupati dengan wakil bupati tidak ada hal yang jelas, karena wakil diibaratkan pembantu, maka paling tidak sesuai pengalaman saya, antara kami berdua insya Allah bisa diujudkan secara firmal walau tidak bisa secara konstitusional, itu tergantung pada diri seorang kepala daerahnya. Karena saya menyadari perjuangan ini berdua. Sama-sama berjuang, sama-sama bekerja, sama-sama modal, sama-sama cari suara, dan sama-sama diharapkan masyarakat. Ibaratnya seperti sekabung bambu ada rueh ado buku. Karena mengurus rakyat, membangun daerah merupakan kerja serius yang membutuhkan kerjasama tim. Keikhlasan, dengan strategi selalu bersyukur berterima kasih dalam berkah.

Apalagi saat ini, kita sedang dalam kondisi yang sulit, pandemi COVID-19 yang belum tau kapan berakhirnya, jurang resesi ekonomi sudah menunggu. Kita sudah melihat dan merasakan sendiri bagaimana sulitnya kondisi saat ini, maka karena itu saya juga telah merumuskan Program 100 Hari Kerja, dimana akan lebih fokus dalam mengatasi dan antisipasi penyebaran Virus Corona ini. Disamping pembenahan disiplin, penataan serta menimbulkan semakat bekerja, memberikan ketauladanan dan contoh yang baik.

Kinerja Gugus Tugas COVID-19 harus lebih ditingkatkan, didukung regulasi dan tata kelola yang baik serta angaran yang cukup. Pengadaan masker gratis bagi seluruh masyarakat tanpa terkecuali yang disertai dengan kampanye massif Lawan COVID-19.

Dan yang paling penting lagi, masalah pendidikan anak-anak kita yang saat ini semua dalam kondisi galau. Insya Allah saya akan membuat regulasi dalam mengatasi ini. Karena penataan pemerintahan di Limapuluh Kota ini diperlukan keseriusan, disiplin, keberanian dan keberpihakan kepada masyarakat dan aparatur. Anak-anak kita harus tetap sekolah dan mendapatkan pendidikan. Kita akan buat Program Wajib Belajar di Rumah bagi anak-anak yang diawasi dengan ketat oleh para guru dan orang tua. Pandemi COVID-19 ini tidak boleh jadi penghalang. Kita akan buatkan regulasinya. Penunjangnya seperti buku-buku pelajaran gratis, kuota paket data dan penunjang lain-lain.

Masalah pendidikan anak ini akan menjadi perhatian lebih bagi saya dan Nurkhalis nantinya. Kita akan berusaha mengembalikan tanggung jawab pendidikan ini, bukan hanya kepada para guru dan orang tua, tapi juga lingkungan masyarakat.

Para Mamak, Etek, dunsanak, tetangga, teman Ayah, teman Ibu, semua harus ikut bertanggung jawab. Saya masih ingat ketika saya kecil dulu, begitu banyak yang saya segani kalau saya akan berbuat sesuatu yang salah. Misalnya saya mau jalan ke pasar, mau coba-coba merokok atau berkata kasar, maka yang memarahi saya bukan hanya orang tua, tapi semua orang memarahi. Mamak, Etek, bahkan teman jauh Ayah juga menjadi ketakutan bagi saya apabila ketahuan. Hal seperti akan kita coba untuk membangkitkan lagi di tengah-tengah masyarakat kita.

Sementara itu, masih dalam Program 100 Hari, saya akan memberikan perhatian lebih juga kepada para petani dan peternak. Karena sudah terbukti para petani, peternak dan ekonomi kreatif yang berada di tengah-tengah masyarakat desa biasanya lebih ‘kebal dan tahan’ terhadap krisis ekonomi.

Kita akan dorong para petani untuk lebih banyak membuka lahan-lahan tidur, menanam tanaman muda yang panen dibawah 4 bulan. Untuk itu kita beri stimulan berupa bibit, pupuk maupun racun dan obat. Kita akan upayakan perputaran uang lebih banyak di tengah-tengah masyarakat, sehingga dampak krisis ekonomi tidak begitu terasa. Bahkan tidak terlepas juga kemungkinan para petani malah akan menjadi kaya karena krisis ekonomi. Ini sudah terbukti ketika krisis ekonomi pada tahun 1998 dulu, banyak cerita petani yang malah mendapatkan keuntungan berlipat.

Kepada Sdr/Sahabat Petani dan Peternak
Ayo semangat!
Kita jadikan kesulitan akibat Krisis Ekonomi ini menjadi PELUANG besar bagi kita untuk menjadi petani yang sukses dan kaya.
Petani akan menjadi ‘pahlawan’ di saat krisis ekonomi melanda.
Ayo saudaraku dan para sahabatku yang petani, ini saatnya, ini peluang bagi kita!

Kepada Para Sahabat Seperjuangan
Ferizal Ridwan masih Buya Fery yang dulu, yang punya waktu 24 jam untuk masyakat, yang siap turun ke pelosok manapun di 50 Kota, yang masih dengan nomor HP yang lama dan selalu aktif serta bisa dihubungi kapanpun.
Mari kita kembali bergandengan tangan memperjuangkan yang ‘sempat tertunda’.

Kepada Sdr/Sahabat Tim Promag dan Pejuang FN
Perjuangan kita belum berakhir, kondisi kita masih sama seperti dulu. Kita masih tetap harus menahan lapar demi tercapainya tujuan Kabupaten Limapuluh Kota yang lebih baik, maju dan sejahtera masyarakatnya..
(Jangan lupa makan promag, ya.. Hehee..)
Pejuang FN jika ada kendala, badai, angin atau godaan jangan cepat menyerah. Alun kapal akan karam, sudah melompat maka pandailah membaca angin, situasi, dan beristiqomah.

Kepada Masyarakat 50 Kota Tercinta
Mari kita jadikan Pilkada kali ini menjadi titik balik bagi kehidupan kita. Kesulitan akibat Pandemi COVID-19 ini harus menjadi landasan bagi kita untuk BANGKIT bersama-sama, baik pada sektor ekonomi maupun sumber daya manusia. Untuk Limapuluh Kota MADANI kita tingkatkan ukhuwah kita. Kita jalin hubungam dengan Allah Ta’ala dan sesama manusia dengan sama baiknya.
Perbedaan pilihan jangan menjadikan kita rusak silaturrahmi.
Pilihlah sesuai hati nurani, hindari politik uang..
Kita harus Bangkit lagi!!!
50 Kita harus jadi yang TERBAIK lagi. InsyaAllah dengan Jalur Independen ini kita tak terbebani cengraman dan kontrak dengan partai politik, indenpenden berutang pada rakyat merdeka 💯 %

Washallallahu ‘alaa sayyidina Muhammadin wa’alaa aalihi washah bihi wassalama.
Subhaana Robbika Rabbil ‘izzati ‘amma yashifuuna wassalamun ‘alal mursina walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Oleh: 
Ferizal Ridwan
Sarilamak, 10/09'2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *